//
you're reading...
Uncategorized

ORANG TUA DAN KELUARGA SANGAT MENETUKAN KEBERHASILAN ANAK

Oleh : Andi Neneng Nurfauziah

(Siswi SMAN 1Benteng Kab. Kepulauan Selayar)

 

Bangsa Indonesia yang terkenal dengan kemajemukan kental dengan nilai historis dan religious tentunya adalah merupakan suatu nuansa yang lahir sebagai fondasi hidup dalam mendapatkan pendidikan. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor : 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tentunya tidak menjamin hak anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan yang sama. Undang – Undang tentang Pendidikan Nasional sebagaimana telah disebutkan diatas, khususnya pasal 5 menyebutkan yaitu : (1) Setiap warga Negara mempunyai hak yang sama memperoleh pendidikan yang bermutu. (2) Warga Negara yang memiliki kelainan fisik , emosional, mental intelektual berhak memperoleh Pandidikan yang khusu. (3) Warga Negara didaerah terpencil atau terbelakang semua masyarakat adat berhak memiliki Pendidikan layanan khusus. (4) Warga Negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh Pendidikan khusus. (5) Setiap warga berhak mendapat kesempatan meningkatkan Pendidika sepanjang hayat. Bunyi pasal yang disebut diatas, tentunya mengandung makna filisofis bahwa semua warga mendapat kedudukan yang sama dalam pendidikan. Pada uaraian ini penulis mencoba akan menyoal keberhasilan anak didik. Fakta menunjukkan bahwa di era sekarang ini dengan metode Pendidikan gratis (SD, SMP, SMA dan Sederajat) tentunya adalah merupakan grend positif bagi anak yang kurang mampu. Namun persoalannya bukan bertitik pada bisa tidaknya warga mendapat Pendidikan yang memadai, sebab secara teroritis saat ini hampir setiap anak telah mendapat Pendidikan. Variabel yang disebutkan tentunya tak dapat terlepas dari peranan orang tua, dan keluarga untuk menetukan keberhasilan anaknya. Hal mana standarlisasi Pendidikan yang berbasis komptensi, dan globalisasi banyak tamatan anak didik dengan lulusan SMA (Sederajat), Diploma, dan Sarjana tidak mampu membawa diri dalam kata kemandirian. Beberapa gejala yang dapat menjadi penyebab itu diakui ataupun tidak, adalah kurangnya pengertian orang tua dan keluarga. Kalau ini penyebabnya bisa karena orang tua si anak didik sangat sibuk dan tak punya ruang waktu. Disisi lain juga tak dipungkiri di karenakan ornag tua / wali (keluarga) juga buta huruf. Indikasinya bisa jadi anak tersebut terbelenggu dalam ketidak acuan untuk mengelolah pelajaran yang diper oleh di bangku sekolah padahal, guru waktunya sangat terbatas daibanding keluarga dalam memberikan pengertian pada anak didik harapan bangsa. Khusus perguruan tinggi dimana biaya pendidikan tidaklah gratis, dan terbilang mahal tentunya merupakan sentilan – sentilun untuk terkaparnya anak bangsa dengan cita – citanya dan kecakapan yang dimiliki dengan kata kunci pendidikannya hanya sampai ditingkat SMA saja atau yang Sederajat, sebab faktor ekonomi. Sementara yang mempunyai kesempatan karena orang tuanya / keluarganya adalah mapan tentunya anaknya akan “legowo” untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Kondisi global saat ini dibursa lapangan kerja, yang merupakan praktek dapat dilihat cara kerja seorang Sarjana yang hanya pendidikannya sampai ditingkat SMA / Sederajat susah dibedakan. Kelemahan ini mengemuka disebabkan kesungguhan anak didik kurang terkontrol dari orang tua dikeluarganya. Filosofinya anak didik model demikian selalu mau di Cas / dituntun untuk maju dengan memberikan metodik pelajaran yang melibatkan dirinya sebagai penelusuran potensi sehingga, pada saat hemat penulis untuk mendapatkan SDM yang handal, siap pakai dan mampu bersaing terlepas dari dogma sarjana atau bukan adalah kesungguhan belajar dengan perhatian dibimbing orang tua. Oleh karena itu, pendidikan yang bermutu perlu mahal tapi, tidak terlalu mahal. Alasannya sebab teoritis Undang – Undang yang disebutkan diatas belum mampu menjamin untuk mendapatkan pelajaran bagi peserta didik, yang apriorinya diakui secara kuantitas tapi lemah secara kualitas.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: